Minggu, 16 Agustus 2009

O BAT PELANGSING

Ada 2 jenis utama antiobesitas / obat pelangsing :

  1. Antiobesitas / obat pelangsing yang mengurangi nafsu makan (Stimulan Sentral), contohnya mazindol, sibutramin dan fentermin.
  2. Antiobesitas / obat pelangsing penghambat lipase gaster dan pankreas, contohnya orlistat (menghalangi penyerapan lemak di usus).

Antiobesitas / obat pelangsing Stimulan Sentral

Perasaan lapar dan kenyang diatur oleh zat kimia otak yang disebut neurotransmiter. Contoh neurotransmiter adalah serotonin, norepinefrin dan dopamin.

Antiobesitas / obat pelangsing yang menekan nafsu makan bekerja dengan cara meningkatkan kadar neurotransmiter ini pada persambungan diantara ujung-ujung saraf di otak (persambungan ini disebut sinaps).

Antiobesitas / obat pelangsing Mazindol menstimulasi aktivitas hipotalamus dan menghambat pengambilan kembali norepinefrin diberikan sebelum makan pagi.

Antiobesitas / obat pelangsing sibutramin menghambat pengambilan kembali serotonin dan norepinefrin diberikan dengan atau tanpa makanan.

Antiobesitas / obat pelangsing Fentermin menekan nafsu makan dengan menyebabkan pelepasan norepinefrin oleh sel-sel saraf diberikan sebelum makan pagi. Antiobesitas / obat pelangsing Fentermin saja masih bisa digunakan untuk mengobati obesitas, tetapi hanya untuk jangka pendek (beberapa minggu).

Efek samping dari antiobesitas / obat pelangsing jenis ini adalah sakit kepala, insomnia (sulit tidur), mudah tersinggung dan gelisah.

Antiobesitas / obat pelangsing penghambat lipase gaster dan pankreas

Antiobesitas / obat pelangsing dengan kandungan Orlistat mempunyai cara kerja dengan membatasi absorpsi lemak dari makanan di lambung dan usus halus dengan menghambat lipase gaster dan pankreas.

Antiobesitas / obat pelangsing jenis ini diberikan segera sebelum, selama atau sampai dengan 1 jam sesudah makan.

Mengatasi obesitas

Pembatasan asupan kalori dan peningkatan aktivitas fisik merupakan komponen yang paling penting dalam pengaturan berat badan. Kedua komponen ini juga penting dalam mempertahankan berat badan setelah terjadi penurunan berat badan.

Harus dilakukan perubahan dalam pola aktivitas fisik dan mulai menjalani kebiasaan makan yang sehat.

Langkah awal dalam mengobati obesitas adalah menaksir lemak tubuh penderita dan resiko kesehatannya dengan cara menghitung BMI.

Cara menghitung Indeks Massa Tubuh (Body Mass Index/BMI):

Berat Badan (kg)
BMI = ------------------------
Tinggi Badan2 (m2)

Resiko kesehatan yang berhubungan dengan obesitas akan meningkat sejalan dengan meningkatnya angka BMI:

  • Resiko rendah : BMI <>
  • Resiko menengah : BMI 27-30
  • Resiko tinggi : BMI 30-35
  • Resiko sangat tinggi : BMI 35-40
  • Resiko sangat sangat tinggi : BMI 40 atau lebih.

Jenis dan beratnya latihan, serta jumlah pembatasan kalori pada setiap penderita berbeda-beda dan obat yang diberikan disesuaikan dengan keadaan penderita.

  • Penderita dengan resiko kesehatan rendah, menjalani diet sedang (1200-1500 kalori/hari untuk wanita, 1400-2000 kalori/hari untuk pria) disertai dengan olah raga
  • Penderita dengan resiko kesehatan menengah, menjalani diet rendah kalori (800-1200 kalori/hari untuk wanita, 1000-1400 kalori/hari untuk pria) disertai olah raga
  • Penderita dengan resiko kesehatan tinggi atau sangat tinggi, mendapatkan obat anti-obesitas disertai diet rendah kalori dan olah raga.

Peluang penurunan berat badan jangka panjang yang berhasil akan semakin tinggi bila dokter bekerja dalam suatu tim profesional yang melibatkan ahli diet, psikologis dan ahli olah raga.

Tim ini akan membantu penderita untuk:

  • mencapai perubahan gaya hidup yang permanen
  • memantau perkembangan penderita
  • memberikan dukungan dan dorongan yang positif
  • menemukan dan membantu mengurangi sumber stres
  • mencegah kekambuhan.

Antiobesitas / obat pelangsing lain.

Antiobesitas / obat pelangsing dengan kandungan campuran antara dietilpropion HCl dengan beberapa vitamin.

Antiobesitas / obat pelangsing dengan kandungan alami chitosan dan ekstrak cambogia ditambah zat lainnya.

Untuk pemilihan antiobesitas / obat pelangsing yang tepat ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter

GANGGUAN TENGGOROKKAN DAN MULUT

sebentar lagi puasa kita harus mempersiapkan diri baik fisik dan psikis kita... sapa tau artikel saduran dari beberapa sumber ini bisa bermanfaat untuk kita semua....

Berikut beberapa obat mulut dan tenggorokan yang beredar di Indonesia :

  1. Povidon Iodida

    Kegunaan:

    • Untuk kesehatan mulut terutama selama dan sesudah pencabutan gigi atau operasi pada mulut.
    • Untuk pengobatan infeksi ringan pada mukosa mulut dan faring.

    Tidak boleh digunakan pada:

    • Anak dibawah 6 tahun
    • Penderita yang alergi terhadap Iodida
    • Penggunaan secara rutin pada penderita gangguan tiroid, wanita hamil dan menyusui

    Hal yang perlu diperhatikan:
    Tidak boleh digunakan jangka panjang lebih dari 2 minggu, karena dapat diabsorpsi dan menimbulkan efek serius yang tidak diinginkan.

    Efek yang tidak diinginkan:
    Iritasi mukosa, reaksi alergi, pemakaian jangka lama menimbulkan efek sistemik seperti: asidosis metabolik, gangguan ginjal.

    Aturan pemakaian:
    Dewasa dan anak-anak diatas 6 tahun:

    • Tanpa diencerkan
      Gunakan povidon iodida 10 ml.
    • Diencerkan dengan air hangat dengan volume yang sama misalnya povidon iodida 10 ml diencerkan dengan air 10 ml. Kemudian dikumur selama 10 - 30 detik, dapat diulang sampal 4 kali sehari.
  2. Heksetidin

    Kegunaan:

    • Untuk infeksi ringan pada mulut dan tenggorokan, misalnya radang gusi, radang sekitar gigi, sariawan, radang selaput lendir mulut, radang tenggorokan dan radang amandel.
    • Sebagai pembilas sebelum dan sesudah pencabutan gigi
    • Menjaga kebersihan mulut sesudah menjalani operasi amandel dan operasi tenggorokan.

    Tidak boleh digunakan pada:
    Penderita yang alergi terhadap komponen obat ini
    Efek yang tidak diinginkan:
    Walaupun jarang, tetapi dapat terjadi reaksi alergi.

    Aturan pemakaian:
    Kumur sebanyak 15 ml tanpa diencerkan selama 30 detik, pada pagi dan malam hari. Lebih baik jangan bilas dengan air setelah kumur.

  3. Mikonazol

    Kegunaan:
    Untuk pengobatan kandidiasis pada rongga mulut.

    Efek yang tidak diinginkan:
    Iritasi lokal dan reaksi alergi.

    Aturan pemakaian:
    Dioleskan pada daerah mulut yang sakit 2 - 4 kali sehari

  4. Dekualinum

    Kegunaan:
    Keradangan ringan pada rongga mulut dan tenggorokan, seperti ginggivitis, periodontitis, faringitis, laringitis dan stomatitis, walaupun bukti klinis belum pasti.

    Tidak boleh digunakan pada:
    Penderita yang alergi terhadap komponen obat ini.

    Efek yang tidak diinginkan:
    Ulserasi dan nekrosis

    Aturan pemakaian:
    Satu tablet dibiarkan melarut perlahan-lahan di dalam mulut. Ulangi setiap 3 - 4 jam, atau sesuai dengan petunjuk dokter. Jangan melebihi 8 tablet sehari.

  5. Benzidamina-HCI

    Kegunaan:
    Keradangan ringan pada rongga mulut dan tenggorokan, seperti ginggivitis, periodontitis, faringitis, laringitis dan stomatitis.

    Hal yang perlu diperhatikan:
    Tidak dianjurkan untuk anak dibawah 5 tahun.

    Efek yang tidak diinginkan:
    Iritasi pada lidah.

    Aturan pemakaian:
    Tanpa diencerkan, kira-kira 1 sendok makan (15 ml) dikumur selama 1 menit, lalu dibuang. Sehari 2 -3 kali.

  6. Gentian Violet

    Kegunaan:
    Antiinfeksi topikal.

    Hal yang Perlu diperhatikan
    Tertelannya gentian violet dapat menyebabkan esofagitas, laringitas, dan trakheitas, bisa juga menyebabkan mual, muntah, diare dan nyeri perut.

    Efek yang tidak diinginkan:
    Tertelannya gentian violet dapat menyebabkan esofagitis, laringitis dan trakheitis, bisa juga menyebabkan mual, muntah, diare dan nyeri perut.

Untuk pemilihan obat mulut dan tenggorokan yang tepat sesuai kebutuhan dan keluhan anda ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter.

MENGENAL KONTRASEPSI

Kontrasepsi adalah pencegahan kehamilan atau pencegahan konsepsi. Untuk mencapai tujuan tersebut, berbagai cara dapat dilakukan, antara lain penggunaan pil KB/ kontrasepsi oral, suntikan atau intravaginal, penggunaan alat dalam saluran reproduksi (kondom, alat kontrasepsi dalam rahim/implan), operasi (tubektomi, vasektomi) atau dengan obat topikal intravaginal yang bersifat spermisid.

Dari sekian banyak cara tersebut, penggunaan obat hormonal oral atau suntikan dan alat kontrasepsi dalam rahim, merupakan cara yang paling banyak digunakan karena sudah lama dikenal dan efetivitasnya sebagai kontrasepsi cukup tinggi.

Kontrasepsi Oral

Ada 4 pil KB / kontrasepsi oral :

  1. Pil KB / kontrasepsi oral tipe kombinasi

    Terdiri dari 21-22 pil KB / kontrasepsi oral dan setiap pilnya berisi derivat estrogen dan progestin dosis kecil, untuk pengunaan satu siklus. Pil KB / kontrasepsi oral pertama mulai diminum pada hari pertama perdarahan haid, selanjutnya setiap pil hari 1 pil selama 21-22 hari.

    Umumnya setelah 2-3 hari sesudah pil kb / kontrasepsi oral terakhir diminum, akan timbul perdarahan haid, yang sebenarnya merupakan perdarahan putus obat.

    Penggunaan pada siklus selanjutnya, sama seperti siklus sebelumnya, yaitu pil pertama ditelan pada hari pertama perdarahan haid.

  2. Pil KB / kontrasepsi oral tipe sekuensial

    Terdiri dari 14-15 pil KB / kontrasepsi oral yang berisi derivat estrogen dan 7 pil berikutnya berisi kombinasi estrogen dan progestin. Cara penggunaannya sama dengan tipe kombinasi. Efektivitasnya sedikit lebih rendah dan lebih sering menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan.

  3. Pil KB / kontrasepsi oral tipe pil mini

    Hanya berisi derivat progestin, noretindron atau norgestrel, dosis kecil, terdiri dari 21-22 pil. Cara pemakaiannya sama dengan cara tipe kombinasi

  4. Pil KB / kontrasepsi oral tipe pil pascasanggama (morning after pil)

    Berisi dietilstilbestrol 25 mg, diminum 2 kali sehari, dalam waktu kurang dari 72 jam pascasanggama, selama 5 hari berturut-turut.

Pil KB / kontrasepsi oral di pasaran

Pada umumnya pil KB / kontrasepsi oral di pasaran terdiri dari 28 pil kontrasepsi, biasanya 7 diantaranya berisi plasebo (zat netral). Hal ini dilakukan untuk mendisiplinkan pemakaian pil KB / kontrasepsi oral.

Pil KB / kontrasepsi oral selain untuk mencegah kehamilan juga untuk mengatur haid agar teratur.

Ada juga pil KB / kontrasepsi oral yang menggunakan bahan yang tidak menimbulkan efek samping berat badan naik, tulang keropos.

Pada produk tertentu pil KB / kontrasepsi oral juga menjanjikan kehalusan kulit pada pemakainya.
Semua kembali kepada pilihan anda dan dokter yang menangani permasalahan ini.

Kontrasepsi suntikan.

Kontrasepsi suntikan yang banyak digunakan ialah medroksiprogesteron asetat 150 mg dalam bentuk depo (lepas lambat) dan kombinasi medroksiprogesteron asetat 50 mg dengan 10 mg estradiol cipionat.

Kedua jenis kontrasepsi suntikan ini diberikan secara IM (intra muskular) dan harus cukup dalam, di daerah gluteus.

Untuk jenis kontrasepsi suntikan medroksiprogesteron asetat 150 mg disuntikkan tiap12 minggu pada hari ke 1 sampai dengan hari ke 5 dalam siklus haid atau dalam waktu 6 minggu setelah melahirkan

Sedangkan kombinasinya diberikan setiap 30 hari.

Kontrasepsi lainnya.

  1. IUD bentuk T dengan kawat tembaga tipis yang distabilkan dengan inti polyethylene. Dipasang selama akhir periode haid atau 1-2 hari pasca haid.

  2. Implan yang mengandung etonogestrel, merupakan kontrasepsi reversible jangka panjang.
  3. IUD yang mengandung levonorgestrel bisa digunakan untuk jangka waktu 3 atau 5 tahun. Kontrasepsi ini dipasang pada rongga rahim /subdermal antara hari pertama sampai dengan hari ke 7 siklus menstruasi. Juga dapat dipasang segera dalam 4 bulan pertama pasca aborsi. Pemasangan pasca melahirkan harus ditunda sampai dengan 6 minggu sesudah melahirkan.